Kalau kita mau merenungkan makna-makna dalam kalimat as sunnah dan makna-makna dalam kalimat al jama’ah, seperti yang disinggung dalam beberapa nash syari’at, dan seperti yang diungkapkan serta dipahami oleh para salafus saleh, kita akan tahu dengan jelas bahwa hal itu hanya cocok dan sesuai dengan golongan ahli sunnah wal jama’ah.
Siapa sebenarnya mereka? Apa sifat-sifat mereka? Dan apa manhaj mereka? Berdasarkan hal itu kita bisa mengidentifikasi siapa sejatinya ahli sunnah wal jama’ah dari beberapa segi sekitar yang menyangkut sifat-sifat mereka, ciri-ciri mereka, manhaj mereka, dan definisi mereka menurut kaca mata orang-orang salafus saleh bahwa yang dimaksud ialah mereka. Sebab, pemilik rumah itu jelas yang paling tahu isi rumahnya, dan walikota itu yang paling tahu rakyatnya.
Di antara segi tinjauan yang memungkinkan kita bisa mengetahui siapa ahlu sunnah wal jama’ah itu ialah:
Pertama, sesungguhnya mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Merekalah ahli sunnah, yakni orang-orang yang mengajarkannya, menjaganya, mengamalkannya, mengutipnya, dan membawanya baik dalam bentuk riwayat atau dirayat atau manhaj. Jadi merekalah yang paling dahulu mengenal sekaligus mengamalkan as sunnah.Pengertian Ahli Sunnah Wal Jama’ah
dari Segi Syari’at dan Istilah
Kalau kita mau merenungkan makna-makna dalam kalimat as sunnah dan makna-makna dalam kalimat al jama’ah, seperti yang disinggung dalam beberapa nash syari’at, dan seperti yang diungkapkan serta dipahami oleh para salafus saleh, kita akan tahu dengan jelas bahwa hal itu hanya cocok dan sesuai dengan golongan ahli sunnah wal jama’ah.
Siapa sebenarnya mereka? Apa sifat-sifat mereka? Dan apa manhaj mereka? Berdasarkan hal itu kita bisa mengidentifikasi siapa sejatinya ahli sunnah wal jama’ah dari beberapa segi sekitar yang menyangkut sifat-sifat mereka, ciri-ciri mereka, manhaj mereka, dan definisi mereka menurut kaca mata orang-orang salafus saleh bahwa yang dimaksud ialah mereka. Sebab, pemilik rumah itu jelas yang paling tahu isi rumahnya, dan walikota itu yang paling tahu rakyatnya.
Di antara segi tinjauan yang memungkinkan kita bisa mengetahui siapa ahlu sunnah wal jama’ah itu ialah:
Pertama, sesungguhnya mereka adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Merekalah ahli sunnah, yakni orang-orang yang mengajarkannya, menjaganya, mengamalkannya, mengutipnya, dan membawanya baik dalam bentuk riwayat atau dirayat atau manhaj. Jadi merekalah yang paling dahulu mengenal sekaligus mengamalkan as sunnah.
Kedua, selanjutnya ialah para pengikut sahabat Rasaulullah shallallahu alaihi wa sallam. Merekalah yang menerima tongkat estafet agama dari para sahabat, yang mengutip, yang mengetahui, dan yang mengamalkannya. Mereka adalah para tabi’in dan generasi yang hidup sesudah mereka, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat kelak. Mereka itulah sejatinya ahli sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka berpegang teguh padanya, tidak membikin bid’ah macam-macam, dan tidak mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang yang beriman.
Ketiga, ahli sunnah wal jama’ah, mereka adalah para salafus saleh, yakni orang-orang yang setia pada Al Qur’an dan as sunnah, yang konsisten mengamalkan petunjuk Allah dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, yang mengikuti jejak langkah peninggalan para sahabat, para tabi’in, dan pemimpin-pemimpin pembawa petunjuk umat, yang jadi tokoh panutan dalam urusan agama, yang tidak membikin bid’ah macam-macam, yang tidak menggantinya, dan yang tidak mengada-adakan sesuatu yang tidak ada dalam agama Allah.
Keempat, ahli sunnah wal jama’ah ialah satu-satunya golongan yang berjaya dan mendapat pertolongan Allah sampai hari kiamat nanti, karena merekalah yang memang cocok dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:
“Ada segolongan dari umatku yang selalu membela kebenaran. Mereka tidak merasa terkena mudharat orang-orang yang tidak mendukung mereka sampai datang urusan Allah dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu..”
Dalam satu lafazh disebutkan:
“Ada segolongan umatku yang senantiasa menegakkan perintah Allah….”
Kelima, mereka adalah orang-orang yang menjadi asing atau aneh ketika dimana-mana banyak orang yang suka mengumbar hawa nafsu, berbagai kesesatan merajalela, bermacam-macam perbuatan bid’ah sangat marak, dan zaman sudah rusak. Hal itu berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:
“Semula Islam itu asing dan akan kembali asing. Sungguh beruntung orang-orang yang asing.”
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam juga bersabda,
“Sungguh beruntung orang-orang yang asing, yakni beberapa orang saleh yang hidup di tengah-tengah banyak manusia yang jahat. Lebih banyak orang yang memusuhi mereka daripada yang taat kepada mereka.”
Sifat tersebut cocok dengan ahli sunnah wal jama’ah.
Keenam, mereka adalah para ahli hadist, baik riwayat maupun dirayat. Karena itulah kita melihat para tokoh kaum salaf menafsiri al tha’ifat al manshurat dan al firqat al najiyat, yakni orang-orang ahli sunnah wal jama’ah, bahwa mereka adalah para ahli hadist. Hal itu berdasarkan riwayat dari Ibnu Al Mubarak, Ahmad bin Hambal, Al Bukhari, Ibnu Al Madini, dan Ahmad bin Sinan. Ini benar, karena para ahli hadist lah yang layak menyandang sifat tersebut, mereka adalah para pemimpin ahli sunnah.
Mengomentari kalimat al tha’ifat al manshurat Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Kalau yang dimaksud dengan mereka bukan ahli hadist, saya tidak tahu lalu siapa lagi?!”
Al Qadhi Iyadh mengatakan: “Sesungguhnya yang dimaksud dengan mereka oleh Imam Ahmad ialah ahli sunnah wal jama’ah, dan orang yang percaya pada madzhab ahli hadist.”
Menurut saya, seluruh kaum muslimin yang tetap berpegang pada fitrah aslinya dan tidak suka menuruti keinginan-keinginan nafsu serta tidak suka membikin berbagai macam bid’ah, mereka adalah ahli sunnah. Mereka mengikuti jejak langkah ulama-ulama mereka berdasarkan petunjuk yang benar.
Kenapa Dinamakan Ahli Sunnah Wal Jama’ah?
Dinamakan ahli sunnah, karena mereka adalah orang-orang yang berpegang pada sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, “Kalian harus berpegang teguh pada sunnahku.”
Adapun as sunnah ialah, syara’ atau agama, dan petunjuk lahir batin yang diterima oleh sahabat dari Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, lalu diterima oleh para tabi’in dari mereka, kemudian diikuti oleh para pemimpin umat dan ulama-ulama yang adil yang menjadi tokoh panutan, dan oleh orang-orang yang menempuh jalan mereka sampai hari kiamat nanti.
Berdasarkan hal inilah maka orang yang benar-benar mengikuti as sunnah disebut sebagai ahli sunnah. Merekalah yang sosok dengan kenyataan tersebut.
Sementara nama al jama’ah, karena mereka berpegang pada pesan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam untuk setia pada jama’ah atau kebersamaan. Mereka bersama-sama sepakat atas kebenaran, dan berpegang teguh padanya. Mereka mengikuti jejak langkah jama’ah kaum muslimin yang berpegang teguh pada as sunnah dari generasi sahabat, tabi’in, dan para pengikut mereka. Mengingat mereka bersama-sama bersatu dalam kebenaran, bersama-sama bersatu ikut pada jama’ah, bersama-sama bersatu taat pada pemimpin mereka, bersama-sama bersatu melakukan jihad, bersama-sama bersatu tunduk kepada para penguasa kaum muslimin, bersama-sama bersatu mengerjakan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, bersama-sama bersatu mengikuti as sunnah, dan bersama-sama bersatu meninggalkan berbagai perbuatan bid’ah, perbuatan yang terdorong oleh keinginan-keinginan nafsu, serta perbuatan yang mengundang perpecahan, maka merekalah jama’ah sejati yang mendapat perhatian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam.
Terakhir kita sampai pada sebuah kesimpulan yang konkrit bahwa nama dan sifat ahli sunnah wal jama’ah adalah istilah yang bersumber:
Pertama, dari sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ketika beliau menyuruh dan berpesan kepada kaum muslimin untuk berpegang teguh padanya, sebagaiman sabda beliau, “Berpegang teguhlah kalian pada sunnahku”, ketika beliau menyuruh dan berpesan kepada mereka untuk setia pada jama’ah, dan melarang menentang serta memisahkan diri darinya. Jadi nama ahli sunnah wal jama’ah adalah nama pemberian Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Beliaulah yang menyebut mereka seperti itu.
Kedua, dari peninggalan sahabat dan para salafus saleh yang hidup pada kurun berikutnya. Peninggalan tersebut menyangkut ucapan, sifat, dan tingkah laku mereka. Nama itu sudah mereka sepakati bersama dan menjadi sifat para pengikutnya. Peninggalan-peninggalan mereka itu ada pada karya-karya mereka yang tertulis dalam kitab-kitab hadist dan atsar.
Ketiga, istilah ahli sunnah wal jama’ah adalah keterangan syari’at yang didukung dengan kenyataan yang benar-benar ada. Istilah itu membedakan antara orang-orang yang setia pada kebenaran dari orang-orang yang suka membikin bid’ah dan menuruti keinginan-keinginan hawa nafsu. Ini berbeda dengan anggapan sementara orang yang mengatakan, bahwa ahli sunnah wal jama’ah adalah sebuah nama yang muncul di tengah perjalanan zaman. Nama ini baru ada di trngah-tengah perpecahan kaum muslimin. Padahal sebenarnya tidak begitu. Itu anggapan yang keliru. Ahli sunnah wal jama’ah adalah istilah atau nama ala syari’at yang berasal dari kaum salaf umat Islam. Artinya, ia sudah ada semenjak zaman sahabat dan para tabi’in yang hidup pada periode-periode awal Islam.
Mengenai anggapan sementara orang yang sudah menjadi budak nafsu bahwa ahli sunnah itu hanya terbatas pada orang-orang salaf mereka saja, dan bahwa yang dimaksud dengan salafus saleh adalah orang-orang yang mengikuti madzhab mereka, itu memang benar. Anggapan tersebut tidak keliru, karena salafus saleh memang ahli sunnah. Begitu pula sebaliknya, baik ditinjau dari pengertian syari’at maupun kenyataannya, sebagaimana yang sudah saya kemukakan di atas. Jadi siapa yang tidak mengikuti madzhab salaf dan tidak menempuh manhaj serta jalan mereka, berarti ia telah memisahkan dari as sunnah dan jama’ah.
Perlu kita katakan kepada orang-orang sesat yang meng-ingkari as sunnah dan para pengikutnya, bahwa itulah yang dimaksud as sunnah, dan mereka itulah para pengikutnya yang bernama ahli sunnah wal jama’ah. Jika kita berpaling dan menolak ucapan yang benar ini, maka kita hanya bisa mengingatkan mereka apa yang pernah dikatakan oleh Nabi Nuh alaihi salam kepada orang-orang yang berpaling dari seruan dakwahnya, seperti yang tertuang dalam firman Allah Ta’ala ini:
“Berkata Nuh, ‘Hai kaumku, bagaiman pikiranmu, jika aku ada mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan diberi-Nya aku rahmat dari sisi-Nya, tetapi rahmat itu disamarkan bagimu. Apakah akan kamu paksakan kamu menerimanya, padahal kamu tiada menyukainya?”
Apakah Mereka Dibatasi Oleh Ruang dan Waktu?
Ahli sunnah wal jama’ah itu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Mereka banyak terdapat di sebuah negara, namun sedikit di negara lainnya. Mereka terdapat banyak pada suatu kurun zaman, tetapi hanya sedikit pada kurun zaman yang lain. Tetapi yang jelas mereka selalu ada di mana dan kapan saja.
Di tengah-tengah mereka terdapat tokoh-tokoh terkemuka yang menjadi pelita kegelapan dan hujjah Allah terhadap makhluk-Nya hingga hari kiamat nanti. Dan karena jasa merekalah terwujud janji Allah yang akan menjaga agama ini.
Dengan demikian jelaslah siapa sebenarnya ahli sunnah wal jama’ah? Siapa itu salafus saleh? Pernyataan golongan-golongan tertentu yang mengaku sebagai ahli sunnah wal jama’ah tetapi nyatanya mereka justru memisahkan diri dari as sunnah dan jama’ah, serta menyerang para salafus saleh atau sebagian dari mereka, adalah pernyataan yang ditolak berdasarkan ketentuan-ketentuan syari’at, dasar-dasar ilmiah, dan fakta-fakta sejarah.
Demikian pula harus ditolak pengakuan-pengakuan bahwa seluruh kaum muslimin itu setia pada sunnah. Pengakuan seperti itu selain mendustakan berita dari Allah dan Rasul utusan-Nya shalallahu alaihi wa sallam yang menyatakan bahwa ada perpecahan, juga berlawanan dengan kenyataan yang ada.
Demikian pula dengan pernyataan dan pengakuan-pengakuan lainnya.
Berdasarkan hal itu, maka sesungguhnya as sunnah bukanlah partai atau semboyan atau aliran yang dianut secara fanatik. Tetapi ia merupakan warisan peninggalan Nabi, mtode yang benar, jalan yang lurus tali yang kuat, dan jalan orang-orang beriman yang terang seterang siang. Siapa yang berpaling darinya pasti ia akabanner_alm.jpgn celaka.
Berbagai kesalahan, kekeliruan, dan bid’ah yang dilakukan oleh orang-orang ahli bid’ah atau oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli sunnah, itu sama sekali bukan dari ajaran as sunnah dan bukan mengikuti manhaj yang benar.
http://alghuroba.wordpress.com/2007/03/21/pengertian-ahli-sunnah-wal-jama%E2%80%99ah/
Rabu, 15 Oktober 2008
Ahli sunnah waljama'ah
Ahli Sunnah Waljama'ah
Gelar-gelar Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Sumber : Syeikh Omar Bakri Muhammad
Selasa, 21 November 2006
Sa’id ibnu Jabir menjelaskan Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103 :
“pada hari perhitungan/keputusan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri atau berwajah suram…”
“Hal itu berarti bahwa perbuatan yang paling bagus adalah menjadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”.
Abdullah ibnu Abbas berkata mengenai ayat tersebut:
“Orang-orang yang berwajah putih berseri adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan orang-orang yang memiliki wajah suram adalah Ahlul Bid’ah wal Firqoh”
Imam Zuhri berkata:
“Para ahli kami berkata, berpeganglah pada sunnah, maka akan selamat.(Darimi vol.1 hal 45)
Gelar-gelar Ahlus Sunnah Wal Jama'ah
Sumber : Syeikh Omar Bakri Muhammad
Selasa, 21 November 2006
Sa’id ibnu Jabir menjelaskan Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 103 :
“pada hari perhitungan/keputusan ada orang-orang yang wajahnya putih berseri-seri atau berwajah suram…”
“Hal itu berarti bahwa perbuatan yang paling bagus adalah menjadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”.
Abdullah ibnu Abbas berkata mengenai ayat tersebut:
“Orang-orang yang berwajah putih berseri adalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dan orang-orang yang memiliki wajah suram adalah Ahlul Bid’ah wal Firqoh”
Imam Zuhri berkata:
“Para ahli kami berkata, berpeganglah pada sunnah, maka akan selamat.(Darimi vol.1 hal 45)
Imam Uza’i berkata:
“Lima hal yang dimiliki oleh shahabat yakni berada dalam jama’ah (di bawah Amirul Mu’minin) dan mengikuti Sunnah, mengajak kepada kebaikan dan meninggalkan kejahatan, jihad di jalan Allah, dan persaudaraan (memelihara ukhuwah)”.
Abu Bakar r.a. berkata:
“Sunnah itu adalah tali agama Allah”
Umar bin Khaththab berkata:
“Seseorang yang mengedepankan akal adalah musuh dari sunnah”
Abdullah bin Umar berkata:
“Barang siapa meninggalkan Sunnah maka ia kafir”.
Sofyan bin ‘Unayna berkata:
“Ada sepuluh hal yang harus dimiliki oleh Ahlus Sunnah, Barang siapa yang meninggalkannya maka ia bukan dari golongan Ahlus Sunnah, yaitu :
1. mereka percaya pada Qodar (takdir baik dan buruk dari Allah)
2. mereka percaya bahwa Abu Bakar adalah Khalifah pertama, setelah itu Khalifah Umar
3. Al-Hawd (Telaga Rasulullah saw. Di Surga)
4. Syafa’at ( pada hari keputusan/hari peradilan)
5. Mizaan
6. Shiraat
7. Iman itu adalah perkataan yang diiringi oleh perbuatan
8. Al Qur’an adalah wahyu Allah
9. percaya adanya siksa kubur
10. percaya adanya hari kebangkitan
Para Ahli Sunnah Wal Jama’ah berkata ketika mereka ditanya,”Bagaimana kita tahu seseorang dari golongan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah?”
Apabila dia memiliki ciri-ciri berikut :
1. Selalu memperjuangkan jama’ahnya
2. Tidak pernah mendustakan para shahabat
3. Tidak pernah memerangi umat (semena-mena terhadap umat)
4. Percaya pada Qodar
5. Tidak ada keraguan tentang iman (mempunyai iman yang kuat) dan iman itu adalah perkataan yang diiringi oleh perbuatan.
6. Tidak berbuat Irja’ (Memisahkan antara keyakinan dan perbuatan)
7. Tidak akan pernah berhenti beribadah
8. Selalu menjaga langkah kaki/aurat
9. Tidak meningggalkan ibadah di samping menegakkan khilafah
BUKU-BUKU AQIDAH
Kitab Al Sunnah: Imam Ahmad bin Hambal (242 H)
Kitab Al Sunnah: Abdullah bin Ahmad (290 H)
Kitab Al Sunnah: Abu Bakar bin Al Athram (272 H)
Kitab Al Sunnah: Ibnu Abi Aasim (287 H)
Kitab Al Sunnah: Muhammad bin Nasr Al Marwazi (294 H)
Kitab Sareeh Al Sunnah: Abu Ja’far al Tahaawie (310 H)
Kitab Al Sunnah: Imam Ahmed bin Muhammad (Imam Al Khallal) (d.311 H)
Kitab Sharh Usul Al Sunnah: ibn Batta Al Akburi (387 H)
Kitab Al Sunnah: ibn Abi Zamneen (399 H)
Semua buku-buku Aqidah tersebut yang ditulis Ahlus Sunnah Wal Jama’ah disebut Al-Sunnah, hal tersebut untuk menunjukkan bahwa Al-Aqidah itu adalah Al-Sunnah.
Hasan Al-Basri berkata, pada salah satu ayat surat Al-Maidah,
“Ash-Shari’ah itu adalah As-Sunnah”
Ibnu Taimiah berkata:
“Sunnah itu adalah syari’ah”
dan beliau berkata:
“Jika kamu paham Sunnah, maka kamu wajib mengikutinya,…..”
Abdul Rahman bin Mahdi berkata:
“Orang-orang mempunyai derajat yang berbeda, sebagaimana mereka adalah imam dari Sunnah dan Hadits, dan sebagaimana dari mereka imam Hadits bukan Imam Sunnah, seseorang yang merupakan imam Sunnah dan Hadits adalah Sufyan Ats-Tsauri”
15 nama/sebutan bagi Ahlus Sunnah wal Jama’ah
1.Ahlus Sunnah wal Jama’ah
2.Ath-Thaa’ifah Al-Mansuurah (Jama’ah yang menang)
3.Ath-Thaa’ifah Adz-Dzohiroh (Jama’ah yang berkuasa)
4.A’immatul Huda (Imam/Kalangan yang Mendapat Petunjuk)
5.Ahlul Qur‘an Al-Faadhilah (Orang-orang terbaik pada abadnya)
6.Ashaabu As-Sunnah wal Hadits (Orang-orang Sunnah dan Al Hadits)
7.As-Salaf As-Salih (Leluhur/pendahulu yang Saleh)
8.Al-Firqoh An-Naajiyah (Mazhab Yang Selamat)
9.Ahlul Al-Ittibaa’(Orang-orang yang tunduk/patuh/mengikuti)
10.Al-Jama’ah (Jama’ah)
11.Al-Ghurabaa (Orang-orang yang ‘Asing’)
12.Ahlul Al-Athar (Kisah orang-orang Ahlus Sunnah)
13.Jama’atul Muslimin (Muslim di bawah kepemimpinan satu khalifah)
14.Ahlu Al-Ilmi (Orang-orang berpengetahuan)
15.As-Salafiyyah (Salafus Sholeh)
ARTI AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH
1. Umum
Secara umum hal ini berarti berlawanan dengan shi’ah sehingga mereka ini adalah siapa saja yang mengucapkan laa ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah, serta shalat menghadap kiblat
2. Khusus
Secara khusus adalah Rasulullah saw beserta sahabatnya
Hal ini tidak termasuk:
· Al Khawarij
· Shi’ah
· Murji’ah
· Al-Qodariyah
· Al-Jahmiyyah
Siapa Ahlu Sunnah Wal Jama’ah dan dimana mereka?
1. Shahabat
2. Mereka yang mengikuti shahabat
3. Mereka yang mengikuti apa-apa yang disampaikan oleh generasi sebelumnya (yaitu sahabat dan tabi’in yang Ihsan)
Siapa mereka itu?
Ibnu Taimiyyah berkata :
“…..mereka adalah para Shahabat Rasulullah saw, mereka disebut sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah karena mereka selalu mengikuti shari’ah dan jama’ah karena mereka menggalang persatuan meskipun mereka tidak bertemu sekalipun. (Fattawa ibn Taymiyyah vol.13 hal 358)
Abdullah ibnu Amru mengisahkan:
Rasulullah saw bersabda :
“Umat-ku akan mengikuti kaum Bani Israil, sungguhpun jika salah seorang dari mereka menggauli ibunya di depan umum (secara seksual), maka akan ada satu dari umat-ku akan berbuat demikian. Orang-orang Israel akan terbagi dalam 72 golongan, umatku akan terbagi dalam 73 golongan, seluruh dari mereka akan masuk neraka, dan satu dari mereka akan masuk surga. Kami bertanya: ”Siapakah golongan yang selamat itu?” Rasulullah menjawab: “Aku dan Para Shahabatku”.(Tirmidzi 2565)
SIFAT DAN KARAKTER AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH
1. Mereka adalah pemegang tali Allah
Abu Bakar As Siddiq ra berkata:
“Ahlus Sunnah adalah mereka yang selalu berpegang teguh pada tali agama Allah swt. tanpa ada keraguan sedikit pun”
Umar bin Khaththab r.a. berkata:
“Akan ada suatu hari di mana orang-orang akan berdebat denganmu tentang syubhat Qur’an (untuk membuat ta’wil dan Tafsir), maka lawanlah mereka dengan sunnah, orang-orang Ahlus Sunnah wal Jama’ah paham bahwa kitab Allah lebih baik dari apapun (sunan Al Damiri vol.1 hal 49)
2. mereka adalah suri tauladan yang baik, mereka menuntun ke jalan yang benar ( Al-Qudawatus Salihun)
Abdullah ibnu Abbas r.a. berkata :
“Allah swt berfirman: “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri ada pula yang menjadi hitam muram….”(QS. 3:106),
mereka yang wajahnya menjadi putih berseri adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan mereka yang wajahnya muram menjadi hitam adalah Ahlul Firqah wal Bid’ah”. (Tafsir dari ayat(QS.3:106) dalam Tafsir Al-Qurtubi, dan Ibnu Katsir dan Al-Bukhari)
Amru bin Qayis Al-Mulla’i (d. 143) berkata:
“Apabila kamu melihat seorang pemuda berada di antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka ia akan menjadi orang yang baik, dan apabila kamu melihatnya berada di antara orang-orang bid’ah maka jauhkan dirimu darinya, sesungguhnya seseorang yang tumbuh/berada dengan orang-orang yang berilmu mulai dari masa kecilnya (hingga ia dewasa) maka selamatlah dia.” (Al Sharh wal Ibana, hal 133)
Ibnu Shouzab berkata:
“Allah akan memberikan berkah-Nya kepada anak muda atau orang non Arab lainnya, jika mereka mau menjadi teman orang Ahlus Sunnah.”(Al Sharh wal Ibana hal 133-Ubaidullah bin Muhammad bin battah Al Akburi (d.387)
Ayub Al-Sikhtiyaani berkata:
“Satu hal yang paling menggembirakan bagi pemuda atau orang non Arab yaitu bahwa Allah membimbingnya pada orang ‘Alim (berlimu) dari golongan Ahlus Sunnah”. (Sharh usul I’tiqaad Ahlus Sunan-Imam Laal’ikaie vol.1 hal 60 H 30)
Imam Ahmad bin Hambal berkata:
“Sesungguhnya golongan yang menang itu adalah Ahlul Hadits, jika bukan mereka , lalu siapa lagi?”.
Qodi Al-Fudhail bin Iyaad (d.187) menjelaskan pertanyaan Imam Ahmad:
Ahmad berkata bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah kelompok yang menang, dan…..Ahlul Hadits”.
Qodi Iyaad berkata:
“Allah mempunyai empat….bahwa yang akan memajukan negeri adalah orang-orang Ahlus Sunnah”.
3. Mereka tidak menyebut dirinya dengan nama lain selain orang-orang Islam dan Ahlus Sunnah dan Al Jama’ah atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena Rasulullah saw memanggil nama mereka dengan sebutan seperti itu, Allah berfirman:
”Jika mereka beriman pada apa yang telah kamu beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada di jalan yang salah”.(QS.2:137)
Ibnu Abbas berkata:
“Barang siapa yang menyebut dirinya dengan nama satu aliran atau nama paham baru (selain Islam), maka berarti ia telah keluar dari agamanya (Islam) ”.(kitab Al Sharh hal 137)
Qadi Iyaad menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Imam Malik, ”Siapakah itu Al Sunnah?” Imam Malik berkata: “orang yang tidak mempunyai gelar yang mereka ketahui, bukan jahmis, bukan rafidis, bukan…..(Tartib Al Madarik, vol.1 hal 72)
Ibnu Qayyim mengisahkan tentang seorang laki-laki yang bertanya pada Imam Ahmad tentang Ahlus Sunnah.
Imam Ahmad berkata: “Seseorang yang tidak menyebut namanya kecuali Al-Sunnah maka ia dari golongan Al- Sunnah’. (Madarik Al-Salikiin-Ibnu Qoyyim, vol.3 hal 174)
Imam Malik bin Moghoul (d.159 H) berkata:
“Jika seseorang memanggil dirinya sendiri dengan panggilan sesuatu yang selain dari apa yang diajarkan Islam atau As- Sunnah, maka sesungguhnya dia telah memanggilnya dengan panggilan ajaran/agama (selain Islam) sesuai dengan agama yang kamu ingini”. (Al-Durr Al-Manthsur-Imam Al-Suyuti vol.2 hal 63) dan (kitab Al Sharh hal 137) dan (kitab Al Sharh-Al Laalikaie vol 1hal 62)
Diberitakan oleh Imam Maimun bin Mahran (d. 117 H) berkata:
“Sungguh berani dirimu jika engkau menyebut dirimu dengan nama selain dari Al-Islam”. (kitab Al-Sharh ibnu Battah Al-Akburi hal 137)
4. Mereka selalu mengikuti sunnah, mereka tidak mengikuti bid’ah
Al Fudhayl bin Iyaad (d.187 H) berkata:
“Aku pernah bersama dan bertemu dengan seluruh orang-orang terbaik, mereka dari Ahlus Sunnah dan mereka semua melarang kamu untuk mengikuti bid’ah.(kitab Al-Sahrh wal Ibana hal 153)
Jadi ciri mereka adalah mengikuti As-Sunnah, dan melarang orang-orang untuk mengikuti bid’ah.
Orang-orang mendekati Abu Bakar dan Bertanya,”Terdapat banyak Sunni, Siapakah Sunni itu?” Abu Bakar bin ‘ashaah (d.194 H) berkata:
“Sunnni adalah orang yang jika kamu berbicara tentang hawa, maka hal tersebut tidak menjadi masalah baginya” (mereka tidak mengikuti hawa nafsu).(Kitab Al I’tiqaad-Al Imam Al Laalikaie vol 1 hal 65)
Karena hal tersebut tidak mempengaruhinya apapun yang kamu katakan tentangnya dari hawa, entah itu nasionalisme, rasisme dan sebagainya, karena ia tahu bahwa ia adalah Muwahhid (orang yang kuat tauhidnya).
Ayub Al-Sakhtiyaani (d.131 H-tabi’) berkata pada Umarah bin Zaa zan:
“Jika seseorang itu adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, jangan tanyakan padanya , bagaimanapun keadaannya”. (kitab Al-I’tiqaad-Al Imam Al Laalikaie vol 1 hal 60)
Mereka bertanya padanya tentang siapa Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ibnu Taymiyyah berkata:
“Mereka adalah umat yang terbaik dan tertinggi, dan mereka adalah orang yang berada di jalan yang lurus, orang-orang yang benar dan adil, dan mereka melarang bid’ah dan mereka hanya pengikut-pengikut yang haq”.(Majmu Al-Fattawa, vol.3 hal 368-369)
5. Mereka adalah Al-Ghurabaa’ (dan Al-Taa’ifah Al-Zaahirah dan Al Firqotul Naajiyah)
Mereka tidak mengajak kepada persatuan dengan siapa saja yang batil dan yang menyimpang, karena mereka ada di pihak yang benar, mereka mengajak agar kita berpegang pada tali agama Allah, karena itulah yang akan menyebabkan persatuan
Imam Hasan Al-Basri berkata:
“Sunnahmu yang berasal dari Allah akan selalu benar, perbedaan antara siapa yang (halus)…dan yang kasar, berpegang teguh pada sunnah (shari’ah). Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah golongan yang jumlahnya kecil dan besok akan menjadi lebih kecil, mereka bukanlah orang yang suka berlebih-lebihan, bukan juga orang yang rasionalis (mendewakan akal) dan bukan golongan bid’ah. Berpeganglah pada sunnah”.(Sunan Al Damiri vol.1, hal 72, Hadits no. 218)
Sofyan Ats-Tsauri (d.161 H) berkata:
“Jagalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan baik, karena mereka adalah Al-Ghurabaa’, jika kamu mendengar bahwa ada seseorang di Timur dan seseorang di Barat, maka orang Sunnah akan mengirimi mereka berdua salam. Sungguh luar biasa Ahlus Sunnah wal Jama’ah.(Al-Imam Al-Laalikaie-kitab Usul Al-I’tiqaadie vol 1 hal 64)
Sofyan Tsauri dikenal sebagai ahli tafsir. Beliau mengumpulkan tafsir dari Ibnu Abbas r.a.
Abdullah bin Mubarak (d.181 H) berkata:
“Ketahuilah, bahwa aku melihat kematian hari ini merupakan karomah bagi setiap muslim yang bertemu Allah, melalui Sunnah (Shari’ah). Kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali. Kepada Allah kita mengadu tentang isolasi kita dari yang lainnya, dan kebanyakan Ikhwan dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah meninggal dunia, dan orang-orang bid’ah mulai bermunculan, kepada Allah kita memohon agar kita dipermudah, ketika Bid’ah mulai bermunculan dan ulama’ mulai menghilang”.(Al-Imam Ibnu Wadhaah-kitab Al-Bida’ hal 39)
6. Ihyaa Faridhatul Jihad wal Muna Fahah (mereka selalu membangkitkan/menghidupkan kembali semangat jihad dan mengajak kebaikan dan melarang kejahatan).
Ahlus Sunnah wal Jama’ah satu-satunya yang percaya bahwa hukum asal tentang darah dan kekayaan dari orang-orang kafir adalah halal bagi muslim, kecuali oleh “Imaan” (jika mereka memeluk Islam) atau “amaan” (perjanjian perlindungan).
Jabir bin Abdullah mengisahkan:
‘Rasulullah saw. bersabda:
“Akan ada generasi penerus dalam umatku, yang akan memperjuangkan yang haq, kamu akan mengetahui mereka nanti pada hari kiamat, dan kemudian Isa bin Maryam akan datang, dan orang-orang akan berkata, ”Oh Isa, Pimpinlah jama’ah (sholat), “ia akan berkata : “ Tidak, Kamu memimpin satu sama lain, Allah memberikan kehormatan pada umat ini (Islam) bahwa tidak seorang pun akan memimpin mereka kecuali Rasulullah saw. dan orang-orang mereka sendiri”. (Muslim 3546)
Uqbah bin Amir mengisahkan:
“Rasulullah saw. berkata: “Akan selalu ada bagian kecil yang selalu berjuang di jalan Allah, mereka akan selalu memberikan… pada musuh, hal tersebut tidak akan merugikan mereka, bagaimanapun tidak setuju dengan mereka, sampai hari kiamat mereka akan tetap berlanjut seperti ini”.(Muslim)
Rasulullah saw. bersabda:
“Akan selalu ada kelompok dari umat yang akan memperjuangkan yang haq, sampai pada akhirnya dari mereka akan melawan dajjal”.
Salamah bin Kaffay berkata:
“Aku duduk bersama Rasulullah saw. aku berkata : “Oh Rasulullah, orang-orang melepaskan pelana dari kuda-kuda mereka, dan meletakkan senjata, dan mengatakan tidak ada jihad”. Rasulullah saw. marah dan berkata: ”Mereka adalah pembohong, sekarang perang dimulai, akan ada penerus dari umatku, dan mereka akan membela kebenaran, Allah akan membelokkan hati orang-orang yang dikehendaki, dan akan ada orang-orang yang beruntung dari mereka pada hari kiamat nanti, dan kuda-kuda Allah kebaikan akan terikat dengannya sampai hari kiamat. Dan itu ditampakkan padaku bahwa aku akan meninggal dunia dan aku akan bersama kalian, dan kalian akan mengikuti aku satu persatu, waktu demi waktu kamu akan dibelokkan dari mengikuti aku dan kamu akan saling membunuh, dan mereka yang beriman akan kembali ke Al-Sham”.(Musnad Imam Ahmad dan Al-Nasa’i dan Al-Baani (sahih).
Hal ini pada waktu Fathu Mekkah di Syam akan ada pertentangan antara muslim dan Yahudi di mana dajjal akan datang. Wallahu ‘alam bisshowab !
http://almuhajirun.com/index.php?option=com_content&task=view&id=15&Itemid=26
Ahli Sunnah Waljama'ah
Assalamu'alaikum. Fubie, kita pasti bisa menggapai itu apabila kita menjadi Ahli sunnah wal jama'ah. Kita pasti bisa. Mengapa Disebut Ahli Sunnah wal Jama’ah?
Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang menjalani sesuatu seperti yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu para sahabat, para tabi’in, dan para imam petunjuk yang mengikuti jejak mereka. Mereka adalah orang-orang yang istiqomah dalam mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah, di mana saja dan kapan saja. Mereka tetap ada dan mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat.
Assalamu'alaikum. Fubie, kita pasti bisa menggapai itu apabila kita menjadi Ahli sunnah wal jama'ah. Kita pasti bisa. Mengapa Disebut Ahli Sunnah wal Jama’ah?
Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang menjalani sesuatu seperti yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh pada Sunnah Nabi Muhammad SAW, yaitu para sahabat, para tabi’in, dan para imam petunjuk yang mengikuti jejak mereka. Mereka adalah orang-orang yang istiqomah dalam mengikuti Sunnah dan menjauhi bid’ah, di mana saja dan kapan saja. Mereka tetap ada dan mendapatkan pertolongan sampai hari Kiamat.
Mengapa mereka disebut demikian? Karena mereka berafiliasi (menisbatkan diri) kepada Sunnah Nabi r dan bersepakat untuk menerimanya secara lahir-batin; dalam ucapan, perbuatan, maupun keyakinan.
Nama Lain Ahli Sunnah wal Jama’ah.
Ahli Sunnah wal Jama’ah memiliki sejumlah nama lain.
1. Ahli Sunnah wal Jama’ah.
2. Ahli Sunnah (tanpa Jama’ah).
3. Ahli Jama’ah.
4. Jama’ah.
5. Salafush Shalih.
6. Ahli Atsar (Sunnah yang diriwayatkan dari Nabi r).
7. Ahli Hadis. Karena mereka lah orang-orang yang mau mengambil Hadis Nabi r, baik secara riwayah (periwayatan) maupun dirayah (pemahaman), dan siap mengikuti petunjuk Nabi r, secara lahir-batin.
8. Firqah Najiyah (Golongan yang Selamat). Karena, mereka selamat dari keburukan, bid’ah, dan kesesatan di dunia, serta selamat dari api Neraka pada hari Kiamat. Hal itu disebabkan mereka mengikuti Sunnah Nabi r.
9. To’ifah Manshuroh (Golongan yang Mendapatkan Pertolongan). Yaitu, golongan yang mendapatkan bantuan dari Allah Ta’ala.
10. Ahli Ittiba’. Karena, mereka selalu mengikuti (ittiba’) Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar generasi Salafush shalih.
copy dari situs